Tampilkan postingan dengan label sarana - prasarana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sarana - prasarana. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 November 2008

GEDUNG TJONG A FIE

Gedung tua ini menggambarkan budaya sekaligus keuletan etnis Tionghoa yang sejak ratusan tahun menetap di Tanah Deli. Gedung tua yang berada di Kesawan (tapekong straat) ini milik Tjong A Fie, sahabat dekat Sultan Deli. Dia adalah Mayor China di Medan, seorang miliuner pertama di Sumatera.

Pada tahun 1870 Tjong A Fie dan kakaknya, Tjong Yong Hian meninggalkan Desa Moy Hian, Kanton, yang terletak di daratan China untuk merantau ke Tanah Deli sebagai kuli kontrak di perkebunan tembakau. Kakak beradik ini sangat jeli melihat peluang bisnis. Mereka kemudian membuka perkebunan dan menetap di Labuhan Deli. Disana, dia juga membuka kedai dengan nama Ban Yun Tjong. Tjong A Fie tahu betul kebutuhan kuli-kuli China dan perantau lainnya yang baru tiba di Tanah Deli, sehingga dalam waktu singkat saja dia kaya raya. Sampai saat ini bangunan Tjong A Fie masih berdiri kokok dan telah menjadi salah satu 'landmark' kota Medan disamping sebagai tempat tinggal keluarga keturunannya.

oleh : Megawati

MEDANKU SAYANG, MEDANKU MALANG

Kota Medan, merupakan kota yang mengalami kemajuan pesat dan menuju Medan Metropolitan (atau sudah Metropolitan kah?). Namun disamping itu banyak juga mengalami kemunduran yang cukup besar. Mengapa saya dikatakan begitu? Sebenarnya jawaban atas pertanyaan ini pasti akan berbeda tergantung dari tanggapan dan sudut pandang masing-masing orang.

Kota tercinta ini memang mengalami banyak kemajuan bila dilihat dari berdirinya gedung- gedung pencakar langit. Berdirinya gedung- gedung tersebut merupakan hasil kerja sama atau hasil investasi dengan negara-negara lain. Selain itu, semakin banyaknya kendaraan yang memadati jalan-jalan protokol maupun jalan-jalan kecil pada saat sekarang ini. Bukankah ini bisa menjadi bukti bahwa kota Medan akan menjadi kota Metropolitan? Kota yang nan besar dan maju di segala aspek kehidupan.

Tapi di balik kemajuan-kemajuan itu, juga terjadi kemunduran. Kita lihat dari segi kebersihan. Dulu kota Medan pernah mendapatkan Adipura karena kebersihannya. Kini, apakah Kota Medan masih layak untuk mendapat piala Adipura lagi? Jawabannya tidak, karena sekarang Medan merupakan salah satu kota terjorok. Terbukti, di beberapa ruas jalan seperti jalan Letda Sudjono, jalan Bakaran Batu, jalan Pelita, jalan Danau Singkarak, jalan Mahkamah, dan di sejumlah ruas jalan kota Medan lainnya, banyak ditemui tempat penampungan sampah sementara yang digunakan pihak Pemerintahan Kota Medan sebagai tempat penampungan.

Salah satu tempat sampah dadakan yang muncul akibat “rajinnya” masyarakat medan membuang sampah secara sembarangan adalah di dekat pinggiran rel kereta api yang ada di jalan Bakaran Batu - meski kini sudah tidak lagi karena sudah dialihfungsikan menjadi taman mini beberapa waktu yang lalu. Bisa dibilang para pemakai jalan merasa terganggu akibat adanya tempat sampah dadakan itu. Selain dari munculnya aroma yang tidak sedap, terganggunya kelancaran arus lalu lintas disana juga merupakan salah satu sebab munculnya tempat sampah dadakan tersebut. Akibat lainnya adalah merusak pandangan para masyarakat yang mencintai kebersihan lingkungan mereka. Sampah-sampah tersebut juga dapat menjadi sumber polusi dan virus berbagai jenis penyakit. Kendati kita ingin menjadikan medan sebagai kota metropolitan, mengapa kita tidak berusaha untuk mengubah kota kita menjadi lebih baik? Dimulai dari menyingkirkan tempat-tempat sampah dadakan yang diciptakan oleh masyarakat sekitar kita. Dengan atau tanpa target meraih kembali Adipura, kebersihan kota merupakan hal yang mutlak. Sebagai warga dan masyarakat yang mengaku cinta pada kota Medan, mari kita sama-sama memajukan dan mensejahterakan kota kita ini, karena manfaatnya adalah untuk kita bersama.

Mari bersama-sama menjaga kebersihan kota Medan....

oleh :

foto : seorang ibu yang menutup hidungnya ketika melintasi jalan Puri, Medan.

Selasa, 04 November 2008

Lampu Lalu Lintas atau Sekedar Lampu Hias?

Saya terkadang heran dengan fungsi dari lampu lalu lintas. Dengan biaya pengadaan yang cukup menguras kas Pemerintah Daerah, lampu-lampu yang terpasang di hampir semua perempatan besar kota Medan ini seolah hanya sebagai hiasan belaka. Coba saja perhatikan persimpangan- persimpangan yang tidak dijaga oleh aparat yang berkepentingan maupun polisi. Pasti selalu ada yang menerobos tanpa memikirkan dampaknya bagi orang lain.

Contohnya saja, di persilangan jalan AR. Hakim dengan jalan Wahidin. Oleh teman saya, persimpangan ini disebut persimpangan "preman". Alasannya, siapa yang bagian depan kendaraannya bisa duluan mendahului, maka dialah yang boleh duluan lewat. Tidak jarang, pengendara sepeda motor yang melintas juga tanpa alat pengaman kepala alias helm. Akibatnya, seperti judul diatas, lampu lalu lintas ibarat hiasan belaka. Meski ada petugas dari Dinas Perhubungan (Dishub) atau Lalu Lintas dan Jalan Raya (DLLAJR) yang mengatur, bukan berarti pengguna jalan persimpangan tersebut langsung patuh.

Padahal saya yakin, semua orang yang pernah mengenyam pendidikan, minimal sampai di bangku Sekolah Dasar (SD), pastilah pernah diajarkan fungsi dari lampu lalu lintas. Bahkan di buku pegangan SD yang kurikulumnya berstandar nasional saat ini, informasi tentang fungsi lampu lalu lintas telah dimuat di kelas 1 (satu) SD, bahkan lengkap dengan gambar!

Lalu, apa yang salah? Apakah memang fungsi lampu lalu lintas sudah berubah sekarang ini? Setahu saya, fungsi atau arti lampu lalu lintas itu sama semuanya, bukan hanya yang ada di kota Medan saja, namun di kota-kota lain di Indonesia juga seharusnya sama. Bahkan di hampir semua negara di dunia juga sama. Bedanya, tidak semua negara menggunakan lampu berwarna kuning.

Selain hal diatas, ada satu hal lagi yang mungkin luput dari pertimbangan dinas tata kota yang mengatur lampu lalu lintas. Jika diperhatikan, meski tidak di semua lampu lalu lintas di setiap persimpangan ada, terdapat count down timer yang berfungsi untuk memberitahu pengguna jalan, baik pejalan kaki yang hendak menyeberang maupun pengendara sepeda motor dan mobil tentang sisa waktu yang dimiliki, baik untuk melintasi persimpangan, maupun untuk menunggu giliran melintas. Seharusnya, karena sudah memiliki timer, lampu berwarna kuning seharusnya tidak diperlukan lagi. Selama ini, fungsi lampu kuning adalah sebagai warning bagi pengendara yang hendak melewati sebuah persimpangan untuk berhati-hati atau mengurangi kecepatannya dan bersiap-siap untuk berhenti. Namun karena sudah ada timer, seharusnya lampu berwarna kuning tidak diperlukan lagi, dan dapat menghemat cost instalasi lampu lalu lintas. Sistem ini juga sebenarnya sudah diterapkan oleh beberapa negara lain, terutama negara-negara maju.

Dari sini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa kemajuan suatu negara juga bisa dicermati dari kesadaran berlalu lintas masyarakatnya. Benar atau salah, mari kita tanyakan ke diri kita masing-masing : “Sudahkah saya mematuhi lampu lalu lintas?”

Mari berdisiplin di jalan raya….

oleh : Alex Prawira Maslo

foto : pengguna jalan raya yang mencoba menerobos lampu merah di persimpangan jalan Sisingamangaraja dan jalan Rahmadsyah.

Sabtu, 01 November 2008

Cegah Banjir Dari Diri Sendiri

Selama dua minggu terakhir, kota Medan selalu direndam banjir terutama saat hujan turun dengan lebat. Kondisi ini mengakibatkan sejumlah ruas jalan menjadi terendam air.

Tercatat di beberapa daerah seperti di kawasan Lapangan Merdeka, jalan Kereta Api, jalan Raden Saleh, dan banyak jalan besar maupun kecil lainnya ikut terendam. Rendaman air tersebut bervariasi, mulai dari setinggi mata kaki hingga mencapai betis orang dewasa. Bahkan di beberapa titik yang memang rawan banjir, genangan air hampir mencapai pinggang orang dewasa.

Di jalan dr. Mansyur misalnya, meluapnya sungai Babura yang diakibatkan hujan deras yang turun cukup lama menyebabkan pengguna jalan mengalami kesulitan untuk melintasi jalan. Kondisi serupa juga terjadi di jalan STM dan jalan Alfiah Medan.

Kini, topik mubazirnya pembangunan waduk di Titi Kuning yang telah selesai dibangun beberapa waktu yang lalu, mulai diangkat ke permukaan. Waduk yang pembangunannya menghabiskan dana yang cukup besar ini awalnya disinyalir dapat menjadi alternatif solusi banjir yang senantiasa terjadi setiap hujan mewarnai kota Medan. Namun faktanya tidak demikian, sehingga dinas terkait saling menyalahkan. Masyarakat juga tidak berhenti-berhentinya “mencuap-cuap”.

Jika hendak kita tilik ke belakang, siapa sih yang hendak kita salahkan atas bencana ‘rutin’ yang murni disebabkan oleh ulah manusia ini? Pemerintah? Atau kita sendiri sebagai masyarakat yang tinggal di dalamnya?

Sebagai pemerintah, sudah sepantasnyalah memutar otak dan bekerja lebih keras untuk untuk menanggulangi problema ini dan berhenti untuk saling menyalahkan instansi lainnya. Sebaliknya, jika memang tidak sanggup, hendaknya pemerintah bersikap lebih terbuka dengan meminta saran dari pakar atau pihak lain. Pemerintah juga hendaknya tidak menunggu hingga bencana datang baru bertindak.

Sebagai masyarakat juga, hendaklah turut serta menjaga fasilitas-fasilitas umum yang sudah disediakan, dan bukan melulu menuntut pemerintah, tanpa melakukan tindakan pencegahan yang seyogianya dapat dimulai dari diri sendiri.

Salah satu alasan klasik penyebab banjir yang sudah diketahui masyarakat banyak adalah tersumbatnya saluran air yang diakibatkan oleh sampah. Namun toh masih banyak yang tidak ambil pusing. Tidak jarang sampah ditemukan ditengah atau di pinggir jalan. Apakah pemerintah juga yang harus disalahkan atas sampah yang kita buang?

Marilah bersama-sama menjaga kebersihan kota Medan….

oleh : Jill Kho

foto : banjir yang menggenangi kawasan Aksara